Selamat Datang Di Web Prodi PIAUD

Program Studi PIAUD (Pendidikan Islam Anak Usia Dini) FTIK IAIN Palangkaraya

Juara 1 Tingkat Nasional

Tari Kreasi Mahasiswa PIAUD

Eksternal Benchmarking Penjaminan Mutu PIAUD IAIN Palangkaraya

Bersama Pengelola Lembaga, Ketua Prodi, Dosen PIAUD IAIN Palangka Raya

Seni Rupa

Pembelajaran Senir Rupa Prodi PIAUD FTIK IAIN Palangka Raya

Benchmarking PIAUD IAIN Palangkaraya

Program Studi PIAUD (Pendidikan Islam Anak Usia Dini) FTIK IAIN Palangkaraya

https://www.blogger.com/u/3/blog/post/edit/2202220117166837103/4429928652431857615#

Bunda Mahasantri

Program Studi PIAUD (Pendidikan Islam Anak Usia Dini) FTIK IAIN Palangkaraya

Visiting Lecture

Program Studi PIAUD (Pendidikan Islam Anak Usia Dini) FTIK IAIN Palangkaraya

Senam Ceria

Program Studi PIAUD (Pendidikan Islam Anak Usia Dini) FTIK IAIN Palangkaraya

Senin, 20 Januari 2020

Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini


Riski Maulinda Sari
1701180032
Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya
Jurusan Tarbiyah Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini




A.    Pengertian Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini
American Academy of Padiatrics 2012 dalam Maria dan Amalia (2016) menjelaskan perkembangan sosial emosional anak usia dini adalah kemampuan anak dalam mengelola dan mengekspresikan emosi secara lengkap baik emosi positif maupun negatif. Anak mampu berienteraksi dengan teman sebayanya atau orang dewasa disekitarnya secara aktif belajar dengan mengeksplorasi lingkungannya. Perkembangan sosial emosional adalah proses belajar anak dalam menyesuaikan diri untuk memahami keadaan serta perasaan ketika berinteraksi dengan orang-orang di lingkungannya yang diperoleh dengan cara mendengar, mengamati dan meniru hal-hal yang dilihatnya.
Menurut Nurjannah (2017) perkembangan sosial emosional anak usia dini merupakan proses belajar pada diri anak tentang berinteraksi dengan orang disekitarnya yang sesuai dengan aturan sosial dan anak lebih mampu dalam mengandalikan perasaannya yang sesuai dengan  kemampuannya dalam mengidentifikasi dan mengungkapkan perasaannya yang diperoleh secara bertahap dan melalui proses penguatan dan modeling.
Berdasarkan dua pengertian di atas maka dapat disimpulkan perkembangan sosial emosional anak usia dini adalah proses perkembangan anak dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya kepada orang tua, teman sebaya dan orang dewasa. Serta proses perkembangan keadaan jiwa anak dalam memberikan respon terhadap keadaan dilingkungannyan yang sesuai dengan aturan sosial yang diperoleh melalui mendengar, mengamati, meniru dan dapat distimulasi melalui penguatan dan modeling (contoh).
  
B.     Karakteristik Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini
Hurlock (1993) perkembangan emosi terjadi sangat kuat pada usia 2,5-3,5 dan 5,5 – 6,4 tahun.
  • .      Reaksi emosi anak sangat kuat, anak akan merespon peristiwa dengan kadar emosi yang sama. Semakin bertambah usia anak samakin mampu untuk mengontrol emosinya.
  • .      Reaksi emosi muncul setiap peristiwa dengan cara yang diinginkannya dan dengan waktu yang diinginkannya pula.
  • .      Emosi mudah berubah dan memperlihatkan reaksi spontanitas atau kondisi asli dan anak sangat terbuka dengan pengalaman-pengalaman hatinya.
  • .      Reaksi emosi berdsifat individual dan pemicu emosi yang sama, namun reaksi yang ditimbulkan berbeda-beda. Hal ini diakibatkan oleh factor pemicu emosi
  • .      Keadaan emosi anak dikendalikan dengan gejala tingkah laku yang ditampilkan dan anak sulit mengungkapkan emosi secara verbal dan emosi mudah dikenali melalui tingkah laku yang ditunjukkan.


Hurlock (1978) perilaku prososial yang umum terjadi pada diri anak diantaranya:
  • .      Meniru : melakukan perilaku orang dewasa disekitarnya
  • .      Persaingan : keinginan untuk mengungguli dan mengalahkan orang lain
  • .      Kerja sama : bermain koperatif bersama teman
  • .      Simpati : menggambarkan perasaan belas kasih atas kesedihan orang lain (KBBI)
  • .      Empati : menempatkan diri pada posisi kesedihan orang tersebut (KBBI)
  • .      Dukungan sosial : dukungan dari orang sekitar
  • .      Berbagi : memberikan miliknya kepada teman atau orang dewasa sebagai bentuk keperdulian
  • .      Perilaku akrab : hubungan erat dan personal dengan orang lain atau teman sebaya.


Selain perilaku prososial anak juga memiliki perilaku anti sosial:
  • .       Negatifisme : perilaku melawan otoritas orang dewasa
  • .      Agresif : perilaku menyerang jika diganggu orang lain
  • .      Perilaku berkuasa : menganggap semua benda miliknya
  • .      Memikirkan diri sendiri : mementingkan keinginan sendiri
  • .      Merusak : membanting atau menghancurkan barang-barang.

  
C.    Tahapan Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini
Perkembangan sosial emosional anak merupakan perkembangan tingkah laku pada anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan aturan yang berlaku dalam lingkungan masyarakat. pada masa ini proses anak belajar dalam menyesuaikan diri dengan norma,  moral dan tradisi dalam masyarakat. Piaget dalam teorinya menyebutkan adanya sifat egosentris yang tinggi pada anak karena anak belum dapat memahami perbedaan perspektif pikiran orang lain. Pada tahap ini anak hanya mementingkan dirinya sendiri dan belum mampu bersosialisasi dengan baik dengan orang lain. (Nurmalitasari, 2015)
Menurut Hurlock 2000 dalam Musyafaroh (2017) untuk mencapai perkembangan sosial dan mampu bermasyarakat, seorang individu harus memerlukan tiga proses. ketiga proses tersebut saling berkaitan dan apabila terjadi kegagalan dalam satu proses dari tiga proses tersebut, maka akan menurunkan kadar sosialisasi individu tersebut. ketiga proses tersebut adalah; pertama, perprilaku yang dapat diterima secara sosial dan setiap kelompok masyarakat memiliki standar perilaku tersebut. Kedua, belajar memainkan peran sosial. Ketiga, perkembangan proses sosial yakni menyukai orang lain dan kegiatannya. Menurut Moh Padil dan Trio Supriyatno dalam Musyarofah (2017) perkembangan sosial anak dapat dilakukan dengan du acara: pertama, proses belajar sosial dan pembentukan loyalitas sosial.
Pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa proses sosial anak dapat dikembangkan dengan cara mengajak anak secara langsung berinteraksi dengan lingkungan sekitanya. Dengan demikian perlahan kemampuan bersosial dalam diri anak akan terus berkembang dan pada proses ini juga perkembangan emosi anak juga akan berkembang.
Musyafaroh (2017) Berdasarkan teori sosialisasi, anak dapat melakukan proses sosialisasi pasif maupun sosialisasi aktif. Teori sosialisasi pasif menerangkan bahwa anak hanya akan memberikan respon kepada orang tua dan mengabaikan orang lain. Teori sosialisasi aktif yakni sosialisasi yang dilakukan anak dengan mengembangkan peran sosialnya. Media yang berperan penting dalam mengembangan proses sosialisasi anak adalah: orang tua, sekolah, lembaga keagamaan, lingkungan sosial dan media massa.
Selanjutnya Campos dalam Nurmalitasari (2015) mendefinisikan emosi sebagai perasaan atau afeksi yang timbul saat seseorang berada dalam suatu keadaan yang dianggap penting. Emosi diwakilkan oleh perilaku yang mengekspresikan kenyamanan dan ketidaknyamanan terhadap situasi yang dialami. Emosi tersebut  dapat berupa rasa senang, takut, marah dsb. Adapun karakteristik emosi pada anak usia dini: berlangsung secara singkat dan berakhir tiba-tiba, terlihat lebih kuat dan hebat dan berlangsung singkat dan berakhir tiba-tiba. Emosi dikategorikan menjadi dua yakni emosi positif dan emosi negatif. Santrock mengungkapkan sebagian besar dipengaruhi oleh dasar bilologis dan pengalaman masa lalu.
Sebagian besar penelitian yang berkaitan pada dengan hubungan sosial manusia, menunjukkan, bahwa pengalaman sosial awal (keluarga) dan dimulai pada masa kanak-kanak dan akan menetap pada diri seseorang dan berpengaruh untuk kehidupan orang tersebut. Wulan dalam Mulyani 2014 Ada beberapa hal yang mempengaruhi pengalaman sosial pada anak usia dini, sebagai berikut:
  • .      Penyesuaian sosial, jika perilaku menyesuaikan diri pada anak berkembang dengan baik, maka akan menetap pada diri anak hingga ia dewasa.
  • .      Keterampilan sosial, sikap yang tertanam pada diri anak akan berpengaruh pada keterampilannya dalam bergaul.
  • .      Partisipasi aktif, pengalaman sosial sejak dini pada diri anak akan mempengaruhi keaktifan seorang anak dalam berpartispasi di masyarakat hingga ia dewasa.

Ketiga poin di atas saling berkiatan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Kemampuan menyesuaikan diri dengan baik akan memudahkan anak memiliki keterampilan dalam bergaul atau berteman. Dan memiliki kemampuan bergaul yang baik akan membuat anak giat dalam berpartipasi di lingkungannya. Aspek sosial emosional pada anak usia dini sangat penting dikembangkan sejak usia dini. Anak yang cerdas sosial emosionalnya akan mengatarkannya memiliki jaringan pergaulan yang luas dan kedepan anak akan memiliki keterampilan kerja sama yang baik dan memudahkannya dalam memperoleh pekerjaan.
   
Referensi:
Milyani. Novi. Upaya meningkatkan perkembangan sosial emosional anak usia dini. Jurnal Raushan Fikr. Volume 3 Nomor 2 Januari 2014.
Maria. Ina dan Amalia. Eka Rizki. (2016). Perkembangan aspek sosial emosional dan kegiatan pembelajaran yang sesuai untuk anak usia 4-6 tahun. Artikel
Musyafaroh. Perkembangan aspek sosial emosional anak usia dini di taman kanak-kakan ABA IV Mangli Jember tahun 2016. Jurnal INJECT Volume 2. Nomor 1. Juni 2017.
Nurmalitasari. Femmi. Perkembangan sosial emosional pada anak usia prasekolah. Bulletin Psikologi. Volume 23 Nomor 2. Desember 2015.
Nurjannah. Mengembangankan kecerdasan sosial emosional anak usia dini melalui keteladanan. Jurnal Bimbingan Konseling dan Dakwah Islam. Volume 14. Nomor 1. Juni 2017.

https://kbbi.kemdikbud.go.id/ . Kamus besar bahasa Indonesia. (Diakses pada tanggal 14 Januari 2020, 5.36 WIB)

Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini


Riski Maulinda Sari
1701180032
Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya
Jurusan Tarbiyah Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini




A.    Pengertian Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini
American Academy of Padiatrics 2012 dalam Maria dan Amalia (2016) menjelaskan perkembangan sosial emosional anak usia dini adalah kemampuan anak dalam mengelola dan mengekspresikan emosi secara lengkap baik emosi positif maupun negatif. Anak mampu berienteraksi dengan teman sebayanya atau orang dewasa disekitarnya secara aktif belajar dengan mengeksplorasi lingkungannya. Perkembangan sosial emosional adalah proses belajar anak dalam menyesuaikan diri untuk memahami keadaan serta perasaan ketika berinteraksi dengan orang-orang di lingkungannya yang diperoleh dengan cara mendengar, mengamati dan meniru hal-hal yang dilihatnya.
Menurut Nurjannah (2017) perkembangan sosial emosional anak usia dini merupakan proses belajar pada diri anak tentang berinteraksi dengan orang disekitarnya yang sesuai dengan aturan sosial dan anak lebih mampu dalam mengandalikan perasaannya yang sesuai dengan  kemampuannya dalam mengidentifikasi dan mengungkapkan perasaannya yang diperoleh secara bertahap dan melalui proses penguatan dan modeling.
Berdasarkan dua pengertian di atas maka dapat disimpulkan perkembangan sosial emosional anak usia dini adalah proses perkembangan anak dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya kepada orang tua, teman sebaya dan orang dewasa. Serta proses perkembangan keadaan jiwa anak dalam memberikan respon terhadap keadaan dilingkungannyan yang sesuai dengan aturan sosial yang diperoleh melalui mendengar, mengamati, meniru dan dapat distimulasi melalui penguatan dan modeling (contoh).
  
B.     Karakteristik Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini
Hurlock (1993) perkembangan emosi terjadi sangat kuat pada usia 2,5-3,5 dan 5,5 – 6,4 tahun.
  • .      Reaksi emosi anak sangat kuat, anak akan merespon peristiwa dengan kadar emosi yang sama. Semakin bertambah usia anak samakin mampu untuk mengontrol emosinya.
  • .      Reaksi emosi muncul setiap peristiwa dengan cara yang diinginkannya dan dengan waktu yang diinginkannya pula.
  • .      Emosi mudah berubah dan memperlihatkan reaksi spontanitas atau kondisi asli dan anak sangat terbuka dengan pengalaman-pengalaman hatinya.
  • .      Reaksi emosi berdsifat individual dan pemicu emosi yang sama, namun reaksi yang ditimbulkan berbeda-beda. Hal ini diakibatkan oleh factor pemicu emosi
  • .      Keadaan emosi anak dikendalikan dengan gejala tingkah laku yang ditampilkan dan anak sulit mengungkapkan emosi secara verbal dan emosi mudah dikenali melalui tingkah laku yang ditunjukkan.


Hurlock (1978) perilaku prososial yang umum terjadi pada diri anak diantaranya:
  • .      Meniru : melakukan perilaku orang dewasa disekitarnya
  • .      Persaingan : keinginan untuk mengungguli dan mengalahkan orang lain
  • .      Kerja sama : bermain koperatif bersama teman
  • .      Simpati : menggambarkan perasaan belas kasih atas kesedihan orang lain (KBBI)
  • .      Empati : menempatkan diri pada posisi kesedihan orang tersebut (KBBI)
  • .      Dukungan sosial : dukungan dari orang sekitar
  • .      Berbagi : memberikan miliknya kepada teman atau orang dewasa sebagai bentuk keperdulian
  • .      Perilaku akrab : hubungan erat dan personal dengan orang lain atau teman sebaya.


Selain perilaku prososial anak juga memiliki perilaku anti sosial:
  • .       Negatifisme : perilaku melawan otoritas orang dewasa
  • .      Agresif : perilaku menyerang jika diganggu orang lain
  • .      Perilaku berkuasa : menganggap semua benda miliknya
  • .      Memikirkan diri sendiri : mementingkan keinginan sendiri
  • .      Merusak : membanting atau menghancurkan barang-barang.

  
C.    Tahapan Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini
Perkembangan sosial emosional anak merupakan perkembangan tingkah laku pada anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan aturan yang berlaku dalam lingkungan masyarakat. pada masa ini proses anak belajar dalam menyesuaikan diri dengan norma,  moral dan tradisi dalam masyarakat. Piaget dalam teorinya menyebutkan adanya sifat egosentris yang tinggi pada anak karena anak belum dapat memahami perbedaan perspektif pikiran orang lain. Pada tahap ini anak hanya mementingkan dirinya sendiri dan belum mampu bersosialisasi dengan baik dengan orang lain. (Nurmalitasari, 2015)
Menurut Hurlock 2000 dalam Musyafaroh (2017) untuk mencapai perkembangan sosial dan mampu bermasyarakat, seorang individu harus memerlukan tiga proses. ketiga proses tersebut saling berkaitan dan apabila terjadi kegagalan dalam satu proses dari tiga proses tersebut, maka akan menurunkan kadar sosialisasi individu tersebut. ketiga proses tersebut adalah; pertama, perprilaku yang dapat diterima secara sosial dan setiap kelompok masyarakat memiliki standar perilaku tersebut. Kedua, belajar memainkan peran sosial. Ketiga, perkembangan proses sosial yakni menyukai orang lain dan kegiatannya. Menurut Moh Padil dan Trio Supriyatno dalam Musyarofah (2017) perkembangan sosial anak dapat dilakukan dengan du acara: pertama, proses belajar sosial dan pembentukan loyalitas sosial.
Pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa proses sosial anak dapat dikembangkan dengan cara mengajak anak secara langsung berinteraksi dengan lingkungan sekitanya. Dengan demikian perlahan kemampuan bersosial dalam diri anak akan terus berkembang dan pada proses ini juga perkembangan emosi anak juga akan berkembang.
Musyafaroh (2017) Berdasarkan teori sosialisasi, anak dapat melakukan proses sosialisasi pasif maupun sosialisasi aktif. Teori sosialisasi pasif menerangkan bahwa anak hanya akan memberikan respon kepada orang tua dan mengabaikan orang lain. Teori sosialisasi aktif yakni sosialisasi yang dilakukan anak dengan mengembangkan peran sosialnya. Media yang berperan penting dalam mengembangan proses sosialisasi anak adalah: orang tua, sekolah, lembaga keagamaan, lingkungan sosial dan media massa.
Selanjutnya Campos dalam Nurmalitasari (2015) mendefinisikan emosi sebagai perasaan atau afeksi yang timbul saat seseorang berada dalam suatu keadaan yang dianggap penting. Emosi diwakilkan oleh perilaku yang mengekspresikan kenyamanan dan ketidaknyamanan terhadap situasi yang dialami. Emosi tersebut  dapat berupa rasa senang, takut, marah dsb. Adapun karakteristik emosi pada anak usia dini: berlangsung secara singkat dan berakhir tiba-tiba, terlihat lebih kuat dan hebat dan berlangsung singkat dan berakhir tiba-tiba. Emosi dikategorikan menjadi dua yakni emosi positif dan emosi negatif. Santrock mengungkapkan sebagian besar dipengaruhi oleh dasar bilologis dan pengalaman masa lalu.
Sebagian besar penelitian yang berkaitan pada dengan hubungan sosial manusia, menunjukkan, bahwa pengalaman sosial awal (keluarga) dan dimulai pada masa kanak-kanak dan akan menetap pada diri seseorang dan berpengaruh untuk kehidupan orang tersebut. Wulan dalam Mulyani 2014 Ada beberapa hal yang mempengaruhi pengalaman sosial pada anak usia dini, sebagai berikut:
  • .      Penyesuaian sosial, jika perilaku menyesuaikan diri pada anak berkembang dengan baik, maka akan menetap pada diri anak hingga ia dewasa.
  • .      Keterampilan sosial, sikap yang tertanam pada diri anak akan berpengaruh pada keterampilannya dalam bergaul.
  • .      Partisipasi aktif, pengalaman sosial sejak dini pada diri anak akan mempengaruhi keaktifan seorang anak dalam berpartispasi di masyarakat hingga ia dewasa.

Ketiga poin di atas saling berkiatan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Kemampuan menyesuaikan diri dengan baik akan memudahkan anak memiliki keterampilan dalam bergaul atau berteman. Dan memiliki kemampuan bergaul yang baik akan membuat anak giat dalam berpartipasi di lingkungannya. Aspek sosial emosional pada anak usia dini sangat penting dikembangkan sejak usia dini. Anak yang cerdas sosial emosionalnya akan mengatarkannya memiliki jaringan pergaulan yang luas dan kedepan anak akan memiliki keterampilan kerja sama yang baik dan memudahkannya dalam memperoleh pekerjaan.
   
Referensi:
Milyani. Novi. Upaya meningkatkan perkembangan sosial emosional anak usia dini. Jurnal Raushan Fikr. Volume 3 Nomor 2 Januari 2014.
Maria. Ina dan Amalia. Eka Rizki. (2016). Perkembangan aspek sosial emosional dan kegiatan pembelajaran yang sesuai untuk anak usia 4-6 tahun. Artikel
Musyafaroh. Perkembangan aspek sosial emosional anak usia dini di taman kanak-kakan ABA IV Mangli Jember tahun 2016. Jurnal INJECT Volume 2. Nomor 1. Juni 2017.
Nurmalitasari. Femmi. Perkembangan sosial emosional pada anak usia prasekolah. Bulletin Psikologi. Volume 23 Nomor 2. Desember 2015.
Nurjannah. Mengembangankan kecerdasan sosial emosional anak usia dini melalui keteladanan. Jurnal Bimbingan Konseling dan Dakwah Islam. Volume 14. Nomor 1. Juni 2017.

https://kbbi.kemdikbud.go.id/ . Kamus besar bahasa Indonesia. (Diakses pada tanggal 14 Januari 2020, 5.36 WIB)

Sabtu, 18 Januari 2020

Jurusan Tarbiyah Adakan Workshop Pendidikan

Kamis (16/1), Jurusan Tarbiyah Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) adakan Workshop Pendidikan. Bertempat di Aula IAIN Palangka Raya, workshop mengangkat tema “powerful teacher.”

Kegiatan perdana di awal tahun ini mengundang seorang prakdisi pendidikan, Kang Deden HMS, founder Gurame (Guru Asyik Menyenangkan). Peserta kegiatan ini berjumlah tak kurang 130 orang terdiri atas para mahasiswa dari empat Prodi di lingkungan Jurusan Tarbiyah, Prodi PAI, PGMI, PIAUD dan MPI.

Ketua panitia, Sri Hidayati, MA., berharap melalui acara ini para mahasiswa sebagai calon guru dapat mengatahui bagaimana cara mengajar yang asyik dan menyenangkan. “Para mahasiswa perlu diajari bagaimana cara mengelola kelas dan metode-metode mengajar yang membuat siswa betah di kelas.”

Rabu, 15 Januari 2020

Evaluasi Kurikulum 2017 Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini

 Palangka Raya - Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) di  (FTIK) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya melakukan evaluasi terhadap kurikulum 2017. Hal ini berguna untuk  terus meningkatkan kualitas pendidikan yang diberikan kepada mahasiswa. Evaluasi kurikulum 2017 dilakukan pada tahun 2020 dengan melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan baik dari internal maupun eksternal. Pihak internal yang terlibat dalam evaluasi ini meliputi pejabat struktural, seperti Dekan FTIK Dr. Rodhatul Jennah, M.Pd, serta Wakil Dekan I Bidang Akademik Dr. Nurul Wahdah, M.Pd. Selain itu, dosen-dosen dari Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini dan mahasiswa juga turut dilibatkan dalam proses evaluasi ini. Pihak eksternal juga memiliki peran penting dalam evaluasi kurikulum ini. Alumni, pengguna lulusan, dan para pemangku kepentingan lainnya turut memberikan masukan dan pandangan terkait dengan keefektifan kurikulum yang telah diimplementasikan. Partisipasi dari berbagai pihak ini diharapkan dapat memberikan perspektif yang komprehensif dalam menilai keberhasilan dan perluasan kurikulum.


Saudah,M.Pd.I menyampaikan pentingnya evaluasi kurikulum dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. "Evaluasi ini merupakan langkah kritis dalam memastikan bahwa kurikulum yang ada dapat memenuhi kebutuhan mahasiswa dan tuntutan perkembangan pendidikan. Dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, kami berharap dapat mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan kurikulum yang telah berjalan," ungkapnya. Dalam proses evaluasi, aspek-aspek seperti relevansi materi pembelajaran, metode pengajaran, penilaian, serta dampak terhadap lulusan dievaluasi secara komprehensif. Masukan dan saran dari pihak internal dan eksternal kemudian digunakan untuk merumuskan perbaikan dan pengembangan yang akan dilakukan pada kurikulum berikutnya.

Dengan adanya evaluasi kurikulum ini, Prodi PIAUD FTIK IAIN Palangka Raya berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dan menghasilkan lulusan yang berkualitas dan siap bersaing di dunia kerja. Evaluasi yang dilakukan secara berkesinambungan menjadi salah satu upaya dalam menjaga relevansi dan mutu kurikulum sesuai dengan perkembangan pendidikan dan kebutuhan masyarakat.




Rabu, 08 Januari 2020

Dosen PIAUD Ikuti Program Peningkatan Kemampuan Bahasa Asing

PALANGKA RAYA – Native Speaker dari Amerika Serikat yang dinanti-nantikan oleh IAIN palangka Raya akhirnya tiba di Palangka Raya. Setelah melalui beberapa hari orientasi di Jakarta, beliau mendarat dengan selamat di Palangka Raya. Kedatangan Donald Eldon Hobbs di dampingi oleh Dellis Pratika,MA (Counterpart) disambut hangat oleh Ketua Jurusan, Santi Erliana, M.Pd. dan Sekretaris Jurusan, M. Zaini Miftah, M.Pd. beserta beberapa staf lainnya.


Donald Hobbs atau yang akrab dipanggil Pak Don adalah English Language Fellow (ELF) yang didelegasikan oleh RELO Kedutaan Amerika untuk mengajar di IAIN Palangka Raya selama 10 bulan. Beliau memiliki pengalaman mengajar Bahasa Inggris selama 12 tahun di negara-negara Asia seperti Indonesia (Yogyakarta dan Jakarta), Thailand, Korea, dan Jepang. Beberapa bahasa seperti Bahasa Indonesia, Jawa Ngoko, Thailand, Korea dan Jepang juga telah dikuasai oleh beliau.



Tugas utama Pak Don adalah mengajar mahasiswa di lingkungan IAIN Palangka Raya. Namun tidak hanya mengajar mahasiswa saja, dosen dan staf di lingkungan IAIN Palangka Raya juga akan mendapatkan program belajar Bahasa Inggris bersama Pak Don. Program yang akan dilaksanakan meliputi Academic Writing, Academic Speaking, TOEFL/IELTS Training, Public Speaking dan lain-lain. Selain itu IAIN Palangka Raya juga akan mengadakan seminar internasional dan workshop yang dibuka untuk umum.

Tidak dipungkiri lagi Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional sangat penting dikuasai guna meningkatkan kualitas IAIN Palangka Raya. Dengan hadirnya Pak Don di IAIN Palangka Raya, seluruh sivitas akademika mengharapkan adanya peningkatan dan kemajuan yang pesat dalam penguasaan Bahasa Inggris, baik secara lisan maupun tertulis.



Dosen PIAUD Ikuti Program Peningkatan Kemampuan Bahasa Asing

PALANGKA RAYA – Native Speaker dari Amerika Serikat yang dinanti-nantikan oleh IAIN palangka Raya akhirnya tiba di Palangka Raya. Setelah melalui beberapa hari orientasi di Jakarta, beliau mendarat dengan selamat di Palangka Raya. Kedatangan Donald Eldon Hobbs di dampingi oleh Dellis Pratika,MA (Counterpart) disambut hangat oleh Ketua Jurusan, Santi Erliana, M.Pd. dan Sekretaris Jurusan, M. Zaini Miftah, M.Pd. beserta beberapa staf lainnya.


Donald Hobbs atau yang akrab dipanggil Pak Don adalah English Language Fellow (ELF) yang didelegasikan oleh RELO Kedutaan Amerika untuk mengajar di IAIN Palangka Raya selama 10 bulan. Beliau memiliki pengalaman mengajar Bahasa Inggris selama 12 tahun di negara-negara Asia seperti Indonesia (Yogyakarta dan Jakarta), Thailand, Korea, dan Jepang. Beberapa bahasa seperti Bahasa Indonesia, Jawa Ngoko, Thailand, Korea dan Jepang juga telah dikuasai oleh beliau.



Tugas utama Pak Don adalah mengajar mahasiswa di lingkungan IAIN Palangka Raya. Namun tidak hanya mengajar mahasiswa saja, dosen dan staf di lingkungan IAIN Palangka Raya juga akan mendapatkan program belajar Bahasa Inggris bersama Pak Don. Program yang akan dilaksanakan meliputi Academic Writing, Academic Speaking, TOEFL/IELTS Training, Public Speaking dan lain-lain. Selain itu IAIN Palangka Raya juga akan mengadakan seminar internasional dan workshop yang dibuka untuk umum.

Tidak dipungkiri lagi Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional sangat penting dikuasai guna meningkatkan kualitas IAIN Palangka Raya. Dengan hadirnya Pak Don di IAIN Palangka Raya, seluruh sivitas akademika mengharapkan adanya peningkatan dan kemajuan yang pesat dalam penguasaan Bahasa Inggris, baik secara lisan maupun tertulis.



Rabu, 01 Januari 2020

Alhamdulillah. Prodi PIAUD Terakreditasi B


Maa Syaa Allah Tabaarakallah, Alhamdulillah sertifikat akreditasi pertama prodi PIAUD IAIN PALANGKARAYA sudah keluar dengan nilai B  Sertifikat akreditasi tersebut berlaku sejak 31 Desember 2019 sampai dengan 31 Desember 2024.





Sertifikat tersebut keluar setelah dua minggu sebelumnya diadakan assesment lapangan oleh Prof. Dr. Ir. Arita Marini, M.E. dan Dr. Ernawulan Syaodih, M.Pd. dari BAN-PT . “Kami sangat bersyukur dengan prestasi ini. Terima kasih atas do'a dan bantuannya bapak/ibu semua. Mulai dari Rektor, Wakil Rektor 1, 2, 3,  Dosen dan Tenaga kependidikan IAIN Palangka Raya. Dekan, Wakil Dekan1, 2, dan 3 , Kabag TU FTIK. Ketua Jurusan Tarbiyah dan teman" tim Bodrex Jurusan Tarbiyah. Dosen Homebase dan mahasiswa Prodi PIAUD, pengelola Prodi PIAUD 2015-2019. Ketua LPM dan tim yang terus mensupport, Ketua LP2M, Kasubag OKPP, Kasubag Umum IAIN Palangka Raya, BAN PT, Assesor, IGRA, Dinas Pendidikan, Kemenag Kota Palangkaraya, dan semua yang membantu tidak dapat disebutkan satu persatu.” ujar Setria Utama Rizal, M.Pd., Sekretaris Prodi PIAUD.






Alhamdulillah. Prodi PIAUD Terakreditasi B


Maa Syaa Allah Tabaarakallah, Alhamdulillah sertifikat akreditasi pertama prodi PIAUD IAIN PALANGKARAYA sudah keluar dengan nilai B  Sertifikat akreditasi tersebut berlaku sejak 31 Desember 2019 sampai dengan 31 Desember 2024.





Sertifikat tersebut keluar setelah dua minggu sebelumnya diadakan assesment lapangan oleh Prof. Dr. Ir. Arita Marini, M.E. dan Dr. Ernawulan Syaodih, M.Pd. dari BAN-PT . “Kami sangat bersyukur dengan prestasi ini. Terima kasih atas do'a dan bantuannya bapak/ibu semua. Mulai dari Rektor, Wakil Rektor 1, 2, 3,  Dosen dan Tenaga kependidikan IAIN Palangka Raya. Dekan, Wakil Dekan1, 2, dan 3 , Kabag TU FTIK. Ketua Jurusan Tarbiyah dan teman" tim Bodrex Jurusan Tarbiyah. Dosen Homebase dan mahasiswa Prodi PIAUD, pengelola Prodi PIAUD 2015-2019. Ketua LPM dan tim yang terus mensupport, Ketua LP2M, Kasubag OKPP, Kasubag Umum IAIN Palangka Raya, BAN PT, Assesor, IGRA, Dinas Pendidikan, Kemenag Kota Palangkaraya, dan semua yang membantu tidak dapat disebutkan satu persatu.” ujar Setria Utama Rizal, M.Pd., Sekretaris Prodi PIAUD.